Tampilkan postingan dengan label Trend. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trend. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Maret 2011

Menelaah Trend Lifestreaming

Konten yang diunggah ke web oleh netizen menyebar di penjuru-penjuru layanan web karena keterbatasan satu layanan web yang hanya menggarap satu bidang tertentu. Bagaimana dengan menyatukan / mengagregasikan kesemuanya menjadi satu? Manifestasi akan kebutuhan inilah yang kemudian akan dikenal sebagai lifestreaming.


Seorang netizen bisa jadi menulis blog di WordPress, membuat tumbleblog berisi catatan-catatan kecil/foto di posterous, dan bercengkrama secara realtime di twitter. Di waktu senggangnya, ia juga mengunggah slide presentasi dari catatan kuliah / konsep-konsep tempat kerjanya di slideshare, mengunggah foto kesehariannya di flickr dan menyimpan artikel-artikel keren yang ditemukannya di delicious.


Secara lebih spesifik, seperti yang dikutip oleh ReadWriteWeb dari Paul McFedries di WordSpy (The Word Lover’s guide to new words), lifestreaming didefinisikan sebagai:



An online record of a person’s daily activities, either via direct video feed or via aggregating the person’s online content such as blog posts, social network updates, and online photos.


Rekaman daring aktifitas keseharian seseorang, baik melalui pengumpan video langsung atau mengagregasikan konten online seseorang seperti blog post, status jejaring sosial atau foto online.


Sementara itu, Lifestreaming didefinisikan di wikipedia sebagai:



a time-ordered stream of documents that functions as a diary of your electronic life; every document you create and every document other people send you is stored in your lifestream.


Lifestreams are also referred to as social activity streams or social streams.


Aliran dokumen yang disusun berdasarkan kronologis waktu yang berfungsi sebagai buku harian dari aktifitas elektronik dari setiap dokumen yang anda ciptakan dan setiap dokumen yang orang lain kirim untuk anda untuk disimpan di lifestream anda.


Lifestream juga mengacu kepada aliran aktifitas sosial atau aliran sosial.


Dari dua definisi diatas, dapat kita simpulkan bahwa Lifestreaming setidaknya mengacu kepada dua hal:

Pada skala kecil, lifestreaming mengacu kepada catatan (log) aktifitas keseharian yang dipublikasikan secara onlinePada skala yang lebih besar, lifestreaming mengacu kepada pengagregasian (agregasi, sederhananya, bermakna mengumpulkan konten dari berbagai sumber) konten seorang user (dapat berupa blog post, tweet, foto, video, dokumen, slide, dll) yang tersebar di berbagai media sosial kedalam satu stream.

Saya pribadi tidak pernah terlalu memperhatikan mengenai lifestreaming-thing ini hingga saya menyaksikan episode ke-10 dari NotSoGeeky yang menginterview Steve Rubel, Director of Insight for Edelman Digital. Dalam Interview tersebut Steve mengungkapkan bahwa blogger kini lebih sedikit ngeblog dan lebih banyak mempublikasikan konten dalam bentuk stream – entah dalam bentuk lifestream kecil (sekedar update status di stream twitter / facebook) atau dalam stream besar (aktif di berbagai media sosial yang kemudian diagregasikan ke satu “stream utama” seperti stream facebook yang dapat mengimport konten dari RSS atau layanan media sosial lainnya.)


Beberapa tahun lalu, saat blog masih satu-satunya media untuk mengekspresikan diri secara online, berbondong-bondong orang membuat blog – yang bermakna, IMO, blogging itu sendiri merupakan lifestreaming. Sekarang masyarakat memiliki lebih banyak opsi dalam lifestreaming: melalui microblog, tumbleblog, berbagai media sosial, atau aktif di berbagai media sosial dan lalu diagregasi di “lifestream utama”.


Seperti yang sudah saya ungkapkan diatas, jika berbicara dalam level konsep, blogging itu sendiri sebenarnya merupakan lifestreaming (stream dengan satuan informasi yang besar dan lebih jarang). Status update di berbagai jejaring sosial juga merupakan lifestream (stream dengan satuan informasi yang pendek dan lebih deras). Jadi jika secara aktif meng-update status atau ngetweet, you already have your own lifestreaming (dalam skala kecil). Tapi jika yang anda cari adalah lifestreaming dalam skala yang lebih besar (mengagregasikan berbagai konten sosial media anda), anda bisa mengikuti berbagai tips ini:


Mengoptimalkan facebook. Setiap media sosial saat ini umumnya sudah memiliki fitur “import to facebook”. Saya menggunakan fitur ini untuk tumblr dan blogpost (menggunakan facebook notes) saya. Setiap kali saya mempublikasikan konten di blog / tumblr, konten tersebut secara otomatis diagregasikan ke facebook.Menggunakan layanan media sosial lifestreaming alternatif. Terdapat berbagai layanan web yang memfokuskan diri untuk mengagregasi konten personal berbagai media sosial. Let’s say Friendfeed, Soup, dll. Untuk lebih jelas mengenai hal ini, anda bisa membaca post 5 layanan lifestreaming alternatif yang ditulis Fandy di bloggingly.


Jika anda menginginkan kontrol penuh atas lifestream anda, anda bisa menggunakan lifestreaming CMS yang di host di server anda. Salah satu contohnya adalah sweetcron yang pernah diulas di bloggingly. See sweetcron in action di lifestreamnya Chris Coyier (CSS-Tricks.com) dan Neofreko (NavinoT.com). Jika anda tertarik untuk menggunakan Sweetcron, Chris Coyier sudah menulis tutorial mengenai pemanfaatan Sweetcron di Nettuts.Sekarang, apa yang anda pikirkan mengenai Lifestreaming? Apakah ada yang saya lewatkan? Silahkan berbagi pemikiran anda melalui kolom komentar 


View the original article here

Jumat, 25 Maret 2011

Menelaah Trend Tumblelogging

Seperti iPad yang mengisi ruang kosong antara iPhone dan MacBook, Tumbleblog mengisi ruang diantara blog dan microblog. Blogging terasa terlalu memakan waktu sementara ada ide-ide yang tidak dapat diekspresikan melalui 140 karakter-nya microblogging. Disinilah tumbleblog hadir: bentuk yang lebih pendek dari blogging namun mengakomodir hal-hal yang tidak di support secara native oleh microblogging seperti photo, video, dll.


Contoh nyata yang dari tumbleblog dapat dilihat di banyak tumbleblog yang terdapat di tumblr (FYI, tidak semua blog yang dihost di tumblr merupakan tumbleblog). Post yang dikategorikan berdasarkan jenisnya (text, quotation, photo, audio, video, dll) dengan panjang post yang sangat pendek. Mungkin hanya satu dua kalimat / paragraf, seringkali berbentuk satu foto dengan caption-nya saja.


Realtimeness & effectiveness. Sudah bukan rahasia lagi bahwa perkembangan web mengarah ke mobile web. Dari arah konsumsi konten, mobile web berarti “tampilkan se-compact mungkin”. Sementara dari arah produksi konten, mobile web berarti realtimeness (bisa dilakukan dimana saja, saat itu juga) dan seefisien mungkin.


Microblogging mengakomodir aspek produksi dan konsumsi konten di era mobile web secara baik. Sayangnya, media yang diakomodir sangat terbatas, sebatas 140 karakter teks pada platform microblogging paling populer saat ini. Tumbleblog mengakomodir mobile-friendliness namun dengan fungsi yang lebih rich.


Untuk informasi yang lebih komprehensif mengenai trend ini, saya merekomendasikan interview NotSoGeeky dengan Steve Rubel yang mengungkapkan bahwa trend blogging kini mengarah kepada life streaming.


Saya rasa tidak. Seperti radio yang bertahan terhadap “gempuran” televisi, setiap bentuk media memiliki market-nya masing-masing. Diluar segala kelebihan tumbleblog, blog tradisional masih lebih powerfull untuk tulisan panjang komprehensif yang tidak sesuai dengan anatomi tumble blog.


View the original article here